Pengambilan tema ini bertujuan untuk memberikan informasi bahwa, karena jaman yang maju ini kebanyakan wilayah sudah berubah lebih modern namun ada beberapa wilayah yang masih memegang erat adat dan budaya seperti Kampung Naga yang masyarakatnya masih memegang adat tradisi nenek moyang mereka. Mereka menolak intervensi dari pihak luar jika hal itu mencampuri dan merusak kelestarian kampung tersebut.
Kampung Naga terletak diberada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jaw Barat. Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya. Asal usul kampung adat ini tidak begitu jelas. Tidak diketahui dengan terang kapan, siapa yang mendirikan serta bagaimana kampung ini berdiri, dikarenakan manuskrip manuskrip peninggalan leluhur yang bisa menceritakan sejarah kampung terbakar pada tahun 1956.
pengambilan Gambar dilakukan tanggal 07/04/2019 sampai 07/04/2019
oleh : Pinkky Nurcahyaningrum & Amino Birahmatillah

Untuk menuju kampung kita harus menuruni 440 anak tangga (sunda: sengked) yang sudah ditembok sampai ke tepi sungai Ciwulan sejauh 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Kelangsungan hidupnya masyarakat kampung memiliki sumber mata pencaharian dari pertanian sawah dan ladang.

Menumbuk padi di Saung Lisung yang menjadi rutinitas warga kampung naga ketika stok beras dirumah sudah menipis.


Untuk menuju kampung, kita harus menuruni 440 anak tangga (sunda: sengked) yang sudah ditembok sampai ke tepi sungai Ciwulan sejauh 500 meter dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Dan warga kampung naga setiap harinya harus naik turun untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya.


Selain bertani, masyarakat Kampung Naga membuat kerajinan tangan dari bahan bahan alam yang ada di Kampung Naga untuk menambah pemasukannya.

Penduduk Kampung Naga juga membuat kerajinan anyam-anyaman dari akar-akar dan bambu untuk dijual, seperti galo (centong nasi), dulang (tempat nasi), cerelek (gelas bahan bambu), pincuk, tampah, dan lainnya.


Masyarakat Kampung Naga mengisi waktu senggang setelah selesai melakukan aktivitas sehari yaitu berkumpul dengaan tetangga sembari mengasuh anak anaknya yang masih kecil.

Abah Ma’un adalah kokolot dan arsitek di Kampung Naga, beliau yang menjaga Bumi Ageng. Kesehariannya selain merawat Bumi Ageng juga membuat kerajinan dan alat tukang untuk beliau jual. Dia bahkan kerap mendapat order pembuatan dulang (alat penumbuk) dari bahan kayu keras.


Salah satu ciri khas dari masyarakat penduduk Kampung Naga dari sudut pandang sandangnya, yaitu Ikat, sebuah penutup kepala yang digunakan penduduk Kampung Naga bagi para lelaki untuk kegiatan kesehariannya .

Salah satu mainan dan sekaligus alat musik khas Kampung Naga ialah Karinding yaitu alat musik dan mainan yang menghasilkan suara dengan cara menjepitkan kedua sisi bibir ke alat tersebut, dan menjentikkan jari pada ujung alat tersebut, sehingga menghasilkan suara yang merdu.


Pada bagian dapur pun tak lepas dari budaya Kampung Naga. Dari fungsi pintu dan lantai dapur yang terbuat dari anyaman bambu ini pun menyimpan keunikan tesendiri, dan lantai dapur tersebut disebut Palupuh.

Penduduk Kampung Naga memiliki salah satu ciri khas unik untuk pemandiannya, yaitu kamar mandi yang berada di luar rumah para penduduk, yang tempatnya berada di luar pagar alam Kampung Naga. Mau wanita, anak-anak, ataupun lelaki semuanya sama tempat kamar mandinya di luar.

Air di Kampung Naga sangat melimpah, masyarakatnya pun ketika sudah memasuki musim kemarau tidak pernah kesulitan air, sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut.

Suatu kepercayaan para penduduk Kampung Naga akan sebuah benda yang membawa keberkahan dan tolak bala bagi mereka, yaitu Salen jimat berkah ditempatkan di pintu belakang rumah yang bentuknya kupat salamet dibuat menyerupai ketupat, terbuat dari daun darangdang, pariang, palias, sariang, tangtang angin yang biasanya akan diperbarui setiap satu tahun sekali pada tanggal 1 Muharram.

Hal yang unik dari khas penduduk Kampung Naga ialah, cara mengeram seekor ayam betina yang ditempatkan di dalam bakul anyaman, yang diletakkan di dinding depan rumah para penduduk, dengan jarak ketinggian dari tanah dan tempat pengeraman yang lumayan tinggi.



Detail dari atap perumahan penduduk Kampung Naga, atap untuk rumah ini mampu bertahan selama 30 tahun. Atap tersebut disebut Ijuk dan memiliki lapisan dalam yang disebut Kerepes dan para penduduk memiliki gudang atap rumah Ijuk.

Susunan rumah penduduk Kampung Naga yang sangat rapih, ternyata memiliki sudut yang khas, yaitu rumah bagian belakang yang menghadap ke barat, dan rumah bagian depan yang menghadap ke timur.

Untuk melindungi kelestarian Kampung Naga, pemangku adat Kampung Naga membuat pagar pembatas secara ganda, untuk membedakan dari wilayah kampung lainnya. Batas alam sisi barat ialah bukit, sisi timur ialah Kali Ciwulan, di sisi selatan ialah parit kecil, dan sisi utara ialah parit kecil.


Bagi masyarakat Kampung Naga, istilah pamali, tabu atau pantangan memang sebuah kewajiban yang merupakan hukum tak tertulis yang wajib ditaati masyarakat. Termasuk soal menjaga kelestarian leuweung/ hutan larangan ini.